DONGGALA – Pantai Karampuana, Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026) sore, tak hanya menyuguhkan panorama pesisir. Kawasan tersebut berubah menjadi panggung fesyen yang memadukan keindahan alam dengan kekayaan budaya lokal.
Sebanyak 55 karya busana berbahan tenun Buya Subi ditampilkan dalam Sunset Fashion Show. Busana kreasi desainer lokal hingga internasional itu diperagakan 18 model di tengah suasana matahari terbenam Pantai Karampuana.
Pemandangan tersebut menjadi bagian dari Festival Buya Subi 2026. Pemkab Donggala menjadikan festival ini bukan sekadar ajang promosi kain tradisional, tetapi juga bagian dari strategi mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Donggala Rustam Efendi mengatakan, Festival Buya Subi menjadi wujud komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya sekaligus menjadikannya sebagai kekuatan baru bagi sektor pariwisata.
“Festival Buya Subi merupakan wujud nyata komitmen pemerintah bersama para pengrajin, pelaku industri kreatif, serta mitra nasional dan internasional dalam melestarikan warisan budaya tenun Donggala,” ujarnya.
Buya Subi sendiri memiliki nilai penting bagi identitas budaya Donggala. Tenun tersebut telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis. Status itu menjadi modal untuk memperluas pengenalan Buya Subi, bukan hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman wisata di Donggala.
Rustam berharap festival tersebut mampu menciptakan efek berantai bagi masyarakat. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula peluang yang terbuka bagi pengrajin, UMKM, pelaku kuliner, jasa pariwisata hingga sektor ekonomi kreatif lainnya.
“Festival ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan warisan budaya agar tetap hidup, berkembang, dan semakin dikenal di tingkat dunia,” katanya.
Pemkab Donggala juga mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam penyelenggaraan festival tersebut. Dukungan itu diharapkan semakin memperkuat posisi Desa Towale sebagai salah satu desa wisata unggulan di Donggala.
Tak berhenti pada penyelenggaraan tahun ini, Festival Buya Subi ditargetkan menjadi agenda tahunan hingga 2030.
Jika konsisten digelar, festival tersebut berpeluang menjadi salah satu kalender wisata budaya Donggala. Terlebih, konsep yang ditawarkan tidak hanya mengandalkan pertunjukan budaya, tetapi menggabungkan tenun, fesyen, alam pesisir, dan kreativitas masyarakat lokal.
Rangkaian pembukaan festival juga diisi penyerahan piagam penghargaan dan suvenir kepada para model serta desainer yang turut mempromosikan tenun Buya Subi.
Kehadiran perwakilan Kementerian Pariwisata RI, unsur Forkopimda, jajaran pemerintah provinsi dan Kabupaten Donggala, tokoh adat, tokoh budaya, hingga masyarakat sekitar turut menambah semarak kegiatan.
Bagi Donggala, panggung fesyen di Pantai Karampuana bukan sekadar pertunjukan. Ada pesan yang ingin ditawarkan: wisatawan tidak hanya datang menikmati laut dan pantai, tetapi juga membawa pulang cerita tentang budaya dan karya masyarakat Donggala.
Dengan cara itu, Buya Subi diharapkan tak berhenti sebagai kain tradisional. Ia bisa menjadi identitas, produk ekonomi kreatif, sekaligus daya tarik wisata yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat.*






