September 16, 2026

Dinas Pariwisata Sulteng Bawa Buya Subi ke Panggung Internasional

banner 728x90

DONGGALA – Tenun Buya Subi tak lagi sekadar menjadi warisan budaya masyarakat Desa Towale, Kabupaten Donggala. Kain tradisional itu mulai didorong menjadi bagian dari daya tarik pariwisata Sulawesi Tengah hingga menembus panggung internasional.

Langkah tersebut diwujudkan melalui Festival Buya Subi 2026 yang digelar Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Donggala, Pemerintah Desa Towale, serta mitra dari Australia, 7 Juli 2026.

Pemilihan Desa Towale sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Desa yang berada di Kecamatan Banawa Tengah tersebut memiliki kekuatan wisata yang cukup lengkap. Mulai wisata bahari, bawah laut, hingga wisata budaya.

Kepala Desa Towale Subhan mengatakan, festival tersebut merupakan kelanjutan dari Event Networking of Tenun Central Sulawesi yang digelar Desember 2025. Kegiatan sebelumnya dihadiri langsung Gubernur Sulawesi Tengah.

“Festival ini merupakan kelanjutan dari kegiatan tahun lalu. Program ini digagas oleh mitra dari Australia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya Dinas Pariwisata, dan didukung penuh oleh Pemerintah Desa Towale,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Festival kali ini mendapat perhatian internasional. Sebanyak 42 peserta dari Australia dijadwalkan hadir. Mereka terdiri atas tujuh perancang busana, 16 model, fotografer, serta keluarga pendamping.

Secara keseluruhan, jumlah tamu dan peserta diperkirakan mencapai sekitar 75 orang.

Kehadiran rombongan dari Australia tersebut menjadi peluang promosi bagi Towale. Terlebih, konsep festival memadukan kekayaan budaya dengan panorama alam Karampuana Beach.

“Persiapan sudah sekitar 95 persen,” kata Subhan.

Seluruh kegiatan dipusatkan di kawasan wisata Karampuana Beach. Peragaan busana berbahan tenun Subi menjadi salah satu acara utama. Para model akan membawakan koleksi dengan sentuhan tradisional maupun desain modern.

Menariknya, panggung fesyen tersebut memanfaatkan panorama matahari sore sebagai latar. Dengan demikian, tenun lokal tidak hanya ditampilkan sebagai produk budaya, tetapi dipertemukan langsung dengan lanskap wisata bahari Towale.

Tak berhenti pada fashion show. Festival juga menghadirkan tari tradisional, pertunjukan musik, hingga jamuan makan malam.

Dari sisi pariwisata, konsep tersebut menjadi upaya memperpanjang pengalaman wisatawan. Pengunjung tidak hanya disuguhi kain tenun, tetapi juga budaya, kuliner, kesenian, dan panorama pesisir dalam satu rangkaian kegiatan.

Masyarakat lokal pun dilibatkan. Pemerintah Desa Towale menyiapkan panitia lokal sekaligus menggandeng penenun dan pelaku UMKM.

Produk kuliner khas berbahan sagu seperti kapurung, dange, dan cendol sagu turut disiapkan untuk menjamu para tamu.

“Kami melibatkan masyarakat secara langsung karena kegiatan ini juga menjadi bagian dari promosi destinasi wisata Karampuana dan Desa Towale,” jelas Subhan.

Towale memiliki modal kuat untuk menjadi etalase wisata budaya Sulteng. Desa ini tercatat memiliki sekitar 192 pengrajin tenun tradisional, terbanyak di Kabupaten Donggala.

Buya Subi yang menjadi ikon desa tersebut juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada 2015. Sementara Towale telah ditetapkan sebagai Desa Wisata oleh Pemkab Donggala sejak 2018.

Pada 2026, statusnya semakin diperkuat setelah Towale ditetapkan sebagai Desa Wisata Unggulan Provinsi Sulawesi Tengah. Sebelumnya, desa tersebut juga meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.

“Towale memiliki potensi wisata yang lengkap, mulai dari wisata bahari, wisata bawah laut, hingga wisata budaya. Potensi inilah yang menjadi daya tarik sehingga banyak program pengembangan masuk ke desa kami,” tambah Subhan.

Rangkaian festival diawali gladi bersih pada 6 Juli. Puncak kegiatan berlangsung 7 Juli dengan registrasi peserta mulai pukul 14.00 WITA.

Pada sore hari, kawasan Karampuana Beach menjadi panggung terbuka. Busana berbahan tenun Subi diperagakan dengan latar panorama pesisir dan matahari terbenam.

Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang dijadwalkan dihadiri Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid bersama para tamu undangan.

Sejumlah akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), jajaran pemerintah provinsi dan kabupaten, serta pemangku kepentingan lainnya juga diundang.

Bagi Dinas Pariwisata Sulteng, Festival Buya Subi menjadi lebih dari sekadar agenda budaya. Tenun menjadi pintu masuk, Towale menjadi destinasi, sementara masyarakat lokal menjadi bagian utama dari manfaat ekonomi pariwisata.

Jika dikembangkan secara konsisten, perpaduan tenun, fesyen, kuliner, dan wisata bahari ini berpotensi menjadikan Towale sebagai salah satu ikon wisata budaya Sulawesi Tengah.*