PALU – Pengalaman kurang mengenakkan dialami Anggota DPRD Kota Palu, Ulfa, saat menjaga seorang pasien anak di Ruang Rambutan, RS Madani Palu, Selasa (1/9/2026). Ulfa mengaku dibangunkan oleh seorang oknum perawat dengan cara kakinya dikorek menggunakan sepatu.
Ulfa menceritakan, dirinya berada di RS Madani untuk menjaga seorang pasien berusia sekitar 16 tahun yang berasal dari Parigi. Karena orang tua pasien belum dapat hadir untuk mendampingi, Ulfa memilih menemani pasien tersebut atas dasar kemanusiaan.
“Saya yang jaga dari malam. Sudah dua malam saya jaga dan tidur di rumah sakit,” kata Ulfa saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (1/9).
Sekitar pukul 05.00 Wita, Ulfa mengaku sudah terbangun, namun masih berbaring di lantai karena saat itu aktivitas pembersihan ruangan belum dimulai. Tak lama kemudian, seorang perawat datang membawa perlengkapan untuk pasien.
Menurut Ulfa, perawat tersebut sempat mengucapkan permisi. Namun, yang membuatnya keberatan adalah cara membangunkannya.
“Dia bilang permisi, tapi kakinya jalan di tulang kering saya. Bukan di ujung kaki saya, tetapi di betis, di tulang kering,” ungkapnya.
Ulfa mengaku cukup terkejut dengan perlakuan tersebut. Ia menilai, seharusnya seorang tenaga kesehatan dapat membangunkan keluarga pasien dengan cara yang lebih sopan.
“Saya bilang, kenapa kau masih bangunkan saya dengan kaki? Tidak ada lisanmu? Tidak bisa bilang, ‘Permisi Ibu’? Kita pasti bangun kalau dibilang begitu. Jangan dikorek dengan kaki,” ujarnya.
Menurut Ulfa, persoalan tersebut bukan berkaitan dengan dirinya sebagai anggota DPRD, melainkan menyangkut penghormatan terhadap sesama manusia. Ia bahkan mengaku tidak ingin memperpanjang persoalan atau mencari masalah dengan tenaga kesehatan.
“Saya tidak bicara saya siapa atau bagaimana. Saya bicara sebagai manusia. Masyarakat tidak boleh diperlakukan begitu. Kita harus saling menghargai karena sama-sama manusia,” tegasnya.
Ia juga menekankan, kejadian yang dialaminya bukan laporan masyarakat yang masuk kepadanya sebagai anggota DPRD. Ulfa menyebut dirinya mengalami langsung perlakuan tersebut.
“Ini bukan pengaduan masyarakat ke saya. Saya sendiri yang mengalami langsung. Saya kaget, kenapa bisa seperti itu?” katanya.
Ulfa berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi manajemen RS Madani Palu. Menurutnya, pembinaan terhadap tenaga kesehatan tidak cukup hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga menyangkut etika, adab, dan cara berkomunikasi dengan pasien maupun keluarga pasien.
Ia menyarankan agar pihak rumah sakit memberikan pelatihan atau pembinaan secara berkala terkait etika pelayanan dan pembentukan karakter tenaga kesehatan.
“Pesan saya kepada Direktur Madani, perlu ada pelatihan adab. Kurang sekali adabnya oknum seperti ini. Bayangkan keluarga pasien dibangunkan dengan dikorek menggunakan kaki,” ujarnya.
Ulfa juga meminta agar pihak rumah sakit memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas terkait cara tenaga kesehatan berinteraksi dengan pasien dan keluarga pasien.
“Harus ada SOP, pelatihan, atau pembinaan rutin. Kalau perlu ada penguatan rohani supaya mereka melayani dengan baik, menghargai pasien dan keluarga pasien,” tuturnya.
Terkait kemungkinan pemberian sanksi terhadap oknum perawat tersebut, Ulfa menyerahkan sepenuhnya kepada pihak manajemen RS Madani.
“Itu ranahnya Direktur Madani. Apa sanksi yang diberikan kepada orang seperti ini, itu kewenangan mereka. Tetapi persoalan seperti ini jangan dibiarkan karena bisa membahayakan citra lembaga dan membuat citra buruk Rumah Sakit Madani,” katanya.
Manajemen RS Madani Investigasi
Sementara itu, Direktur RSUD Madani Palu Hairudin mengatakan pihaknya belum dapat memberikan penjelasan lebih jauh terkait kejadian tersebut.
Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Hairudin menyampaikan dirinya sedang mengikuti rapat koordinasi bersama Gubernur Sulawesi Tengah.
“Waalaikumsalam. Saat ini saya lagi rakor di gubernur. Terkait hal tersebut, tim kami masih investigasi kronologisnya,” ujar Hairudin.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pihak rumah sakit masih melakukan penelusuran untuk mengetahui kronologi kejadian secara utuh sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Ulfa sendiri menegaskan, kritik yang disampaikannya bukan untuk mendiskreditkan seluruh tenaga kesehatan di RS Madani. Ia berharap kejadian tersebut menjadi momentum pembenahan sehingga pasien maupun keluarga pasien mendapatkan pelayanan yang lebih baik.
“Perawat harus bekerja karena ibadah. Harus bisa menghargai pasien dan keluarga pasien. Jangan melayani hanya karena mengharapkan gaji,” tandasnya.ADK






