Tenaga Medis Minim, Pansus II Desak RS Pendau Tambu Punya Dokter Spesialis

Ketua Pansus II, Irfan
banner 728x90

DONGGALA – Krisis tenaga kesehatan masih membayangi pelayanan medis di Kabupaten Donggala. Mulai dari dokter, apoteker, hingga tenaga laboratorium, masih jauh dari kebutuhan ideal.

Persoalan ini mencuat dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) II DPRD Donggala saat membahas LKPJ Bupati Tahun Anggaran 2025 di ruang sidang utama DPRD, Kamis lalu.

Ketua Pansus II, Irfan, menyoroti lemahnya pemenuhan tenaga medis, padahal anggaran dinilai tersedia.

“Tenaga medis masih kurang. Padahal anggaran ada. Kenapa tidak mampu merekrut?” tegas Irfan, Kamis (2/4/2026).

Diketahui, Donggala saat ini memiliki dua rumah sakit. Yakni RS Kabelota di Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, serta RS Pendau Tambu di Desa Mapane Tambu, Kecamatan Balaesang.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan yang baru menjabat, Apriania Lengke, memaparkan kondisi tenaga dokter di dua rumah sakit tersebut. RS Kabelota disebut memiliki 12 dokter spesialis, sementara RS Pendau Tambu hanya memiliki enam dokter.

“Untuk RS Kabelota ada 12 dokter spesialis. RS Tambu hanya enam dokter. Masa kontrak dokter tahun 2026 sampai bulan Oktober,” jelasnya.

Namun, ia mengakui kekurangan masih terjadi di tingkat puskesmas. Terutama untuk tenaga farmasi atau apoteker dan tenaga laboratorium.

“Untuk puskesmas, tenaga farmasi dan laboratorium belum terpenuhi. Idealnya satu puskesmas satu tenaga,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Pansus II mendorong Dinas Kesehatan untuk memaksimalkan pelayanan, termasuk menghadirkan dokter spesialis, khususnya di wilayah pantai barat.

“Masih ada anggaran DAK nonfisik, tunjangan profesi dokter sekitar Rp30 juta per bulan. Ini harus dimaksimalkan. Kami minta di RS Pendau Tambu bisa ada dokter spesialis,” tegas Irfan.

Pansus menilai pemerataan tenaga kesehatan menjadi kunci peningkatan layanan, terutama di daerah terpencil yang masih kesulitan akses medis.CIL