DONGGALA – Anggota DPRD Kabupaten Donggala dari Fraksi NasDem, Moh Taufik, mengungkapkan sekitar 4.000 hektare sawah produktif di wilayahnya kini tidak lagi terairi akibat rusaknya infrastruktur irigasi pascabencana.
Menurut dia, sebelum bencana, ribuan hektare sawah tersebut merupakan lahan produktif yang menopang kebutuhan pangan masyarakat. Namun, kondisi berubah drastis setelah sejumlah jaringan irigasi dan bendungan mengalami kerusakan parah.
“Kurang lebih 4.000 hektare sawah tidak terairi. Ada yang dialihfungsikan, ada juga yang tidak digarap karena struktur irigasi kita sudah hancur, terutama bendungan,” ujar Taufik, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, lahan sawah terdampak tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Sirenja, Balaesang, Sojol, Sojol Utara, hingga Dampelas. Kerusakan paling signifikan terjadi pada jaringan irigasi dan bendungan yang terputus, sehingga suplai air ke areal persawahan terhenti.
Taufik menilai, persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di Donggala.
Sebagai upaya solusi, Taufik mengaku telah berkoordinasi dengan anggota DPR RI dari Komisi V yang membidangi infrastruktur. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Juli Leskodat.
Dalam pertemuan itu, ia diarahkan untuk berkomunikasi dengan Moh Hanafi. Taufik menyebut, pihak DPR RI berjanji akan memperjuangkan aspirasi masyarakat Donggala, khususnya terkait perbaikan jaringan irigasi dan bendungan yang rusak.
“Beliau berkomitmen akan memperjuangkan perbaikan irigasi dan bendungan di Donggala agar sawah yang ada bisa kembali produktif,” tandasnya.
Taufik berharap pemerintah pusat segera memberikan perhatian serius terhadap kerusakan infrastruktur pertanian tersebut. Pasalnya, pemulihan sektor pertanian dinilai menjadi kunci dalam menggerakkan kembali ekonomi masyarakat pascabencana.ADK












