DONGGALA – Jalan hidup Yasin Lataka tak selalu mulus. Lahir dari keluarga petani di pelosok Desa Kamonji, Kecamatan Balaesang Tanjung, 9 April 1972, ia tumbuh dalam keterbatasan. Namun dari kampung sederhana itu, tekadnya menembus batas hingga kini dipercaya memimpin DPRD Donggala.
“Sejak kecil saya hidup di lingkungan petani, di hutan istilahnya. Itu yang membentuk saya,” ujarnya kepada Sultengpost.com, Rabu (8/4/2026).
Masa kecil Yasin dihabiskan di kampung. Ia mengenyam pendidikan dasar di SDN Kamonji. Karena dianggap memiliki potensi, orang tuanya mengirimnya ke Banawa untuk melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Banawa pada 1985.
Perjuangan tak ringan. Akses transportasi saat itu masih mengandalkan jalur laut. Ia harus menyeberang dari kampung ke Donggala menggunakan perahu motor.
“Waktu itu belum ada jalur darat. Kami naik motor laut dari pesisir ke Banawa. Itu perjuangan luar biasa,” kenangnya.
Cobaan datang saat ia duduk di bangku SMP. Sang ayah meninggal dunia, membuat beban keluarga bertumpu pada ibunya yang berjualan kue untuk menyambung hidup.
Kondisi ekonomi memaksa Yasin bekerja serabutan sejak remaja. Ia mencari kayu, bekerja harian, hingga akhirnya setelah lulus SMEA pada 1992, merantau ke Palu dan menjadi buruh bangunan.
Sempat Terhenti, Bangkit Lewat Pendidikan
Perjalanan pendidikannya sempat tersendat. Ia pernah kuliah di IAIN (kini UIN) namun hanya bertahan dua semester karena keterbatasan biaya. Yasin kemudian bekerja di perusahaan otomotif PT Hasrat Abadi selama tiga tahun sebelum terdampak PHK saat krisis tahun 1998.
Tak menyerah, ia kembali merintis dari nol. Pernah mencoba bertani kakao di Kasimbar, namun tak bertahan lama hanya sembilan bulan. Ia kembali ke Palu dan bekerja di jasa konsultan pajak.
Di titik itu, Yasin kembali menata hidup. Ia melanjutkan kuliah S1 di Universitas Alkhairaat Palu dan lulus pada 2004. Kariernya mulai menanjak setelah dipercaya menjadi dosen sekaligus membangun usaha konsultan pajak sendiri.
Tak berhenti di situ, ia melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor (S3) di Makassar. Baginya, pendidikan adalah warisan utama.
“Pesan ibu saya sederhana, harta tidak akan diwariskan, tapi ilmu itu yang akan saya pakai seumur hidup,” ungkapnya.
Gagal Berulang, Lolos di Momentum Kelima
Masuk ke dunia politik bukan pilihan instan. Yasin mengaku telah lima kali mencoba peruntungan, mulai dari pencalonan legislatif hingga pilkada.
Empat kali gagal, baru pada momentum kelima ia berhasil meraih kepercayaan masyarakat dan kini duduk sebagai Ketua DPRD Donggala.
“Grafik suara saya naik terus. Terakhir saya dapat lebih dari 2.000 suara, tanpa politik uang,” tegasnya.
Ia menekankan, kepercayaan publik dibangun dari keteladanan dan komitmen, bukan sekadar materi.
Motivasi: Ubah Daerah Tertinggal
Keputusan terjun ke politik didorong keprihatinan terhadap kampung halamannya di Balaesang Tanjung yang dinilai masih tertinggal, baik dari sisi infrastruktur, pendidikan, maupun ekonomi.
“Kalau mau mengubah daerah, harus lewat kebijakan politik. Itu yang memotivasi saya,” jelasnya.
Meski secara ekonomi sudah mapan sebagai dosen dan konsultan pajak, Yasin memilih jalur politik untuk memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.
Gaya Kepemimpinan Akomodatif
Sebagai pimpinan DPRD, Yasin mengusung gaya kepemimpinan akomodatif dan kolektif. Ia menegaskan setiap keputusan harus diambil melalui musyawarah, bukan voting.
“Saya ingin memperkecil sekat-sekat di DPRD. Kita ini kolektif kolegial, bukan keputusan satu orang,” ujarnya.
Ia juga menekankan prinsip kemanfaatan dan kebersamaan dalam setiap kebijakan.
Fokus: Infrastruktur dan Lapangan Kerja
Ke depan, Yasin menilai persoalan mendesak di Donggala adalah infrastruktur dan ketersediaan lapangan kerja. Ia berkomitmen mendorong peningkatan pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Selain itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara legislatif dan eksekutif dalam membangun daerah.
“Kalau bupati punya mimpi, harus dikomunikasikan dengan DPR. Kita ini mitra, harus sejalan untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Amanah dan Pengabdian
Bagi Yasin, jabatan Ketua DPRD bukan sekadar posisi politik, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada masyarakat, tetapi juga kepada Tuhan.
“Ini pengabdian. Tanggung jawabnya bukan hanya ke rakyat dan partai, tapi juga kepada Allah,” ucapnya.
Di luar kesibukannya, Yasin tetap mempertahankan hobi lamanya: bertani. Baginya, akar kehidupan di kampung tak pernah bisa ditinggalkan.
Menjelang pelantikan, ia meminta dukungan masyarakat Donggala untuk mengemban amanah tersebut.
“Berikan saya kesempatan untuk berbuat yang terbaik bagi Donggala,” pungkasnya.ADK












