DONGGALA – Di tengah sejumlah capaian pajak yang melesat pada 2025, Bapenda Donggala juga mencatat beberapa sektor yang justru terancam tidak memenuhi target. Pajak Air Tanah (PAT) menjadi salah satu yang paling berat realisasinya.
Kepala Bapenda Donggala, Mohammad Hafid, mengatakan bahwa penggunaan air tanah di Donggala tidak sebanding dengan target yang ditetapkan sejak awal. Kondisi lapangan yang minim aktivitas usaha berbasis air tanah membuat penerimaan berjalan lambat.
“PAT memang berat. Revisi target juga tidak boleh terlalu tinggi, sementara kondisi di lapangan tidak mendukung,” ujarnya, Senin (27/10).
Selain PAT, beberapa jenis pajak lain yang berbasis transaksi juga cenderung stagnan, seperti BPHTB dan pajak sarang burung walet. Hafid menjelaskan, BPHTB sangat bergantung pada transaksi properti, sementara burung walet memiliki tantangan pengawasan karena sifatnya self-assessment dan sulit diintervensi petugas.
Kondisi ekonomi yang lesu sepanjang tahun turut memperberat capaian sejumlah sektor tersebut. Hafid menyebut perputaran uang yang lambat membuat banyak wajib pajak menahan ekspansi usaha, sehingga potensi penerimaan ikut terpangkas.
Kendati begitu, Bapenda memastikan upaya optimalisasi tetap berjalan. Intensifikasi penagihan, validasi data wajib pajak, hingga evaluasi target pada perubahan APBD disebut akan menjadi langkah lanjutan untuk meminimalkan selisih capaian pendapatan pajak daerah.ALB










