News  

Kisah Nyata Dyslexia Diangkat ke Layar, Kenneth Trevi Bintangi Series Emosional

Film Aku Kamu dan Suatu Hari Kita angkat kisah nyata perjuangan dyslexia Kenneth Trevi. (Dok. Istimewa)
banner 728x90

BANDUNG – Kisah perjuangan anak dengan disleksia diangkat ke layar melalui series YouTube berjudul Aku Kamu dan Suatu Hari Kita. Serial ini mengisahkan perjalanan hidup Kenneth Trevi, seorang penyanyi sekaligus aktor asal Bandung.

Kenneth mengungkapkan, series tersebut menghadirkan cerita yang jujur dan emosional, namun tetap menyimpan harapan. Pendekatan sinematik yang hangat membuat kisahnya terasa dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

“Ini bukan sekadar cerita, tapi ruang refleksi bahwa setiap orang punya perjalanan dan ritmenya masing-masing,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Dalam proses produksi, Kenneth menghadapi tantangan besar. Ia mengaku kesulitan menyampaikan dialog panjang karena keterbatasan dalam merangkai kata. Kalimat sering terbalik, bahkan makna dialog kerap hilang.

Dukungan sang ibu, Yuly Li Ling, menjadi kunci. Dialog dipecah menjadi bagian kecil agar lebih mudah dipahami. Perlahan, kepercayaan diri Kenneth pun tumbuh.

Tantangan emosional juga muncul saat ia harus beradu akting dengan ibunya sendiri. Kenneth mengaku kesulitan menahan perasaan ketika melihat ibunya menangis dalam adegan.

“Walaupun itu akting, tetap saja terasa nyata,” katanya.

Kolaborasi ibu dan anak ini justru menjadi kekuatan utama dalam series tersebut. Yuly tak hanya berperan sebagai aktris, tetapi juga pembimbing dalam mendalami karakter.

Ia membantu Kenneth memahami emosi melalui pengalaman nyata, sekaligus mendorongnya tetap tampil natural sesuai dirinya.

Lewat series ini, Kenneth ingin menyampaikan pesan kuat kepada anak-anak dengan disleksia bahwa perbedaan bukanlah kekurangan.

“Setiap orang punya cara belajar masing-masing. Tidak perlu terburu-buru, yang penting terus melangkah,” ujarnya.

Di balik layar, produser Rulli Aryanto merancang series ini sebagai karya berkelanjutan. Setiap tahun akan dirilis dua sesi, masing-masing terdiri dari tiga episode yang mengangkat kisah anak berkebutuhan khusus.

Produksi series ini juga melibatkan berbagai pihak yang dekat dengan perjalanan hidup Kenneth, termasuk guru musiknya sejak kecil. Lokasi syuting pun dipilih dari tempat-tempat yang memiliki nilai historis dalam hidupnya.

Disutradarai Bayu Lesmana, series ini mengambil gambar di Bandung dan Cirebon, sekaligus menyelipkan unsur edukasi dan budaya lokal.

Tak hanya visual, Yuly juga menulis lagu berjudul sama bersama Rulli Aryanto sebagai refleksi perjalanan mereka. Lagu tersebut menggambarkan harapan dan keyakinan bahwa setiap proses akan menemukan titik terang “suatu hari”.

“Aku Kamu dan Suatu Hari Kita” tak sekadar tontonan. Series ini menjadi potret perjuangan, keberanian, dan harapan yang relevan bagi banyak orang.

Serial ini dapat disaksikan melalui platform YouTube dan diharapkan mampu menginspirasi masyarakat luas, khususnya dalam memahami anak-anak dengan kebutuhan khusus.MFI